Sabtu, 12 Oktober 2013

Ciuman itu terasa lebih manis...

Waktu berjalan dengan seenak hatinya, terkadang terasa lambat, terkadang terasa cepat berlalu. Aku berjalan menyusuri pantai, menikmati semilir angin samudra yang membelai lembut wajahku. Sendiri, sepi, hanya matahari senja serta deburan ombak yang menemaniku. Pasir halus yang sabar menghadapi tumpahnya air mataku. Entah apa yang kurasakan hari itu. Hanya terasa kosong, sangat kosong. Hampa, tanpa adanya dentingan suara sedikitpun, tanpa adanya secuil rasa, entahlah. Aku bagaikan mayat hidup yang terus berjalan maju tanpa bisa merasakan apa yang ada di sekelilingku. Ya, layaknya mayat, aku mati. Mati dalam kehampaan.

Terduduk pada hamparan pasir dan menyandarkan punggung ke batang pohon kelapa. Termangu menatap langit. Tampak sesosok manusia dalam lamunanku. Ia dan impian-impiannya. Terkadang aku iri dengannya. Yang bisa bermimpi dan bebas mengekspresikan fantasi. Sedangkan aku? Layaknya tawanan dalam penjara yang kerap kali terluka jika tidak mengikuti apa yang diperintahkan. Aku hanya ingin bebas. Aku bukanlah anjing yang dikurung didalam kandangnya. Aku bukanlah tawanan kriminal yang harus dirantai tangan dan kakinya. Aku bukanlah budak yang bisa seenaknya diperintahkan atau disiksa. Aku ingin bebas. Biarkan aku mengambil jalan hidupku sendiri.

Lamunanku buyar. Disambut dengan air mata yang mengalir dengan derasnya mengarungi wajahku. Terbersit akan sebuah ruangan serba putih dan bau rumah sakit. Berjalan dalam lamunan dan terus berjalan mendapati sesosok manusia. Hanya bisa diam dan menatap. Sebuah harapan masa lalu yang tersampaikan. Berlari memeluk sesosok itu. Aku dapat merengkuhnya, bahkan lebih lama. Tak ingin lagi aku sepi. Tak ingin lagi aku jauh. Air mata kebahagiaan yang meleleh dari sepasang manusia. Belaian lembut dan dekapan hangat. Tak ingin lepas. Dan ciuman ini pun terasa lebih manis. Aku tersadar. Akhir yang bahagia tidak hanya ada dalam dongeng. Walau harus menghadapi gelombang badai yang teramat besar, suatu saat pasti akan terbalas dengan kebahagiaan yang tak terhingga, sampai akhir hayat, sampai kematian memisahkan, dan sampai bertemu lagi dalam sebuah melodi dunia keabadian.

Senin, 08 Juli 2013

Aku Sudah Mati

Melangkahkan kaki meraih ujung jalan
Tatapan kosong yang selalu mengiringi
Merengkuh kelam yang semakin merasuk
Kubiarkan angin membawaku
Entah kemana ia akan menghempasku

Semilir menjadi topan
Riak ombak menjadi gelombang raksasa
Gerak stabil menjadi gempa dahsyat
Tenang menjadi kehancuran
Semuanya berubah!

Semakin dibuatnya bingung
Angin hanya menghempasku ke suatu tempat
Sebuah lubang di tanah dengan gundukan tanah di sampingnya
Tersembul sebuah ujung batu dibalik tanah
Berusaha untuk meraihnya
Mencoba untuk menatap
Hanya nisan yang kutemui
Nisan bertuliskan namaku

Aku, hanya aku, tak ada nama lain
Tersentak saat kurasakan tubuhku mulai rapuh
Tak dapat merasakan apapun
Lubang di tanah itu pun mulai menarikku masuk
Hingga tersadar saat gundukan tanah di samping lubang itu mulai menutupi diriku
Menutupi kaki, badan, dan wajah
Kupejamkan mataku
Aku sudah kembali
Kembali pada Sang Pencipta

Aku, disini, dipusaraku sendiri
Hanya diam dan tersenyum
Menunggu kamu
Ya, kamu yang disana
Biarkan aku beristirahat dengan tenang dan menantimu
Menunggumu tepat di alam sana
Kita, bersama, tanpa ada masa lalu

Senin, 17 Juni 2013

Aku Sudah Beristirahat dengan Tenang

Udara dingin yang membayangi
Menembus kulit, merasuk tulang
Aku hanya duduk terpaku meratap
Kudengar tangisan pilu dari segala penjuru
Miris rasanya
Entah apa yang terjadi disana
Aku hanya bisa terdiam dan meratap

Terselimuti sepi di alam mimpi
Terbaring aku dibawah naungan bulan
Komet yang berkejaran
Gugusan bintang yang saling mengedipkan pandang
Andromeda megah yang mengukir cerita

Angin berhembus berbisik tepat ditelingaku
Membawaku ke sebuah tempat
Tak ada yang bisa kulihat
Sunyi, sepi, seperti tidak ada tanda kehidupan manusia
Hanya nyanyian jangkrik yang menghiasi gelap itu

Langit sekejap menjadi gelap gulita
Suara jangkrik menghilang seketika
Tak bisa lagi kurasakan segala sesuatunya
Aku hanya ditemani sepi
Belenggu akhir dengan penuh tanda tanya

Setetes air dari langit jatuh menimpa wajahku
Tetes demi tetes berikutnya mulai turun dan turun
Kubiarkan badanku basah
Aku menangis dipelukan hujan
Badai seakan mengerti akan emosiku
Petir menyambar dengan hebat
Seolah mengusir segala amarah dan sedihku yang bercampur aduk
Aku hanya bisa mengadu kepada hujan
Dan gelap selalu bersamaku
Belum pernah aku bertemu sang mentari

Hujan terus turun seiring dengan jatuhnya air mataku
Hujan semakin deras dikala tangisku semakin menjadi
Aku rapuh tanpa penyangga
Tak ada kekuatan yang utuh
Aku hanya serpihan kecil dari jutaan serpihan masa lalu
Senyumku bagaikan kamuflase diantara topeng-topeng
Suram

Tangisku mereda dan hujan pun demikian
Aku bangkit dari simpuhku
Melangkahkan kaki mengukir jejak
Perjalanan masih panjang
Bangkit dan berjalanlah
Walaupun kau tak tahu kemana kau akan melangkah
Tak tahu arah tujuan
Yakin akan secercah cahaya yang mungkin akan datang menghampiri

Terseok di tengah kegelapan
Dengan belenggu yang mengikat tubuhku
Aku terjatuh dengan menahan perih di tubuhku
Hanya pasrah akan nasibku berikutnya

Semburat cahaya muncul seketika ditengah pasrahku
Sinar-sinar yang lembut mengusap sisa-sisa air mataku
Apakah ini mentari?
Aku tersadar
Tubuhku terasa ringan
Belenggu itu telah hilang

Apakah ini kebebasan?
Aku melayangkan pandanganku ke puncah tertinggi
Melemparkan mataku ke arah genangan air yang luas
Menuruni bukit dengan senyum
Tampak samar olehku sesosok penuh kharisma
Mengulurkan tangan dan mengajakku pergi
Pergi jauh dan meninggalkan dunia yang gelap penuh dosa
Sampaikan salamku akan Telaga Warna

Angin bertiup lembut
Perlahan aku terangkat
Meninggalkan daratan dan aku terus naik
Naik menghampiri sang mentari
Menggapai mimpi dengan senyuman
Tanpa gangguan air mata duka
Aku sudah beristirahat dengan tenang

Yogyakarta, 17 Juni 2013
Areli Tabitha

Selasa, 02 April 2013

Duos Abnormalius


Hari ini, Kamis, 21 Maret 2013. Aku dan seorang sahabat dikala normal dan abnormal  masih dengan kesibukan di dunianya masing-masing. Sahabat absurdku, sebut saja Citra. Disaat dia tengah kuliah, kurampok motornya dan entahlah, aku bingung mau kemana -_-

Pada akhirnya kuarahkan ke sumur miring dan ada temen-temenku disana. Yaudah nongkrong bergaul bergaul dulu lah yaaaa boook. Hahahaha.  Dan cerita masih berlanjut disana sampe akhirnya saya yang dalam posisi sebagai sopir si absurd itu disms suru jemput beliau yang terabsurd. Dari sini lah perjalanan si yang maha absurd alias diriku, eL, dan si absurd, Citra, dimulai.

Berawal dari galau mau kemana dan akhirnya sepakat buat terbang ke Bukit Bintang di Gunungkidul, Wonosari. Tujuannya? Cuma buat makan jagung + minum hot cocoa sambil nunggu matahari hilang ditelan bumi. Terus? Ya ga terus-terus. Itu beres ya langsung Nyewon. Alhasil sampailah duo absurd ini di spot favorit kita  berdua disana. Di pojokan penuh absurdibilitas yang cetar buat ngeliat sunset yang absurd dan sesuatu buat ngeliat lampu-lampu  di Jogja yang mulai nyala. Penuh cerita, canda, tawa, galau, dan yang pasti absurd! Yeaaahhh! Salam metal kecil! Dan sedikit cerita tentang spot favorit kita, 2 kali kita kesana dan 2 kali juga kita jadi pengunjung pertama, dan lagi kita selalu dikasih diskon sama sang empunya lapak. Yuhuuuu~ what a live banget apalagi buat anak kost dodol kaya kita. Lopyupul dah pokonya mah. Dan setelah sunset kelar, biasanya kita nunggu lampu nyala baru pulang. Tapi beda sama hari ini, kita nunggu awan yang lagi keliatan bagus banget itu ilang. Hmmm~ okeeee baiklaaaah. Kelakuan kita emang absurd kok, wajar orang pacaran disebelah kita pada buru-buru pindah meja ato ga pulang cepet. Wkwkwkwkwkwkk. Begitu awan tadi ilang, mulailah kita melanjutkan perjalanan entah kemana.

Turun Gunungkidul, mataku yang lagi eror banget hari ini. Semuanya terlihat bokeh padahal udah pake softlens yang minus loh, tapi semua jadi bokeh dan ini bikin bahaya apalagi di kondisi jalan di Gunungkidul yang turunan n tanjakan. Nyoba kurangin kecepatan dan voila kita selamat sampe lampu merah! Peluk cium buat sapi-sapi di truk depan motor kita yang bikin mataku ga bokeh lagi n aku bisa nyetir dengan bahagia sambil kita berdua dadah-dadah sama sapi-sapi unyu itu. Sampe-sampe kita diklaksonin sama truk dibelakang n diketawain gara-gara tingkah absurd kita. Dihh, sirik banget mereka! Maklum mereka biasanya hidup di truk doang ga kaya kita hobi bertualang (cari pembenaran, bok :p). Sambil di jalan, sambil joget-joget n nyanyi-nyanyi meracau ga jelas sampe mendekati Tugu. Yahh, mampir bentar laaah di angkringan depan KR alias kantor Kedaulatan Rakyat. Itu loh kantor koran di Jogja.

Sampe KR, kita makan lagi. Aku ngambil pisang aroma 4, sate telor puyuh 1, risol 1, sama teh panas 1. Sementara Citra ngambil pisang aroma 3, sate usus 2, bakwan 1, sama teh panas 1. Padahal yaaaaahhhhh, tadi baru aja sama-sama makan jagung + indomie goreng di Bukit Bintang. Cuma beda di minumnya. Citra 1 hot cocoa, sementara si guweh pesen 2 gelas hot cocoa. Wakakakak. Yaaahh, di depan KR kita sambil nyemil sambil curhat-curhat ngalor ngidul absurd  bahas macem-macem. Begitu kelar lanjut Nyewon lagi.
Pada awalnya dari KR mataku udah mulai ga bokeh lagi nihh. Ehh pas di lampu merah deket hotel Melia langsung deh aku turun dari motor n bilang Citra buat gantian nyetir gara-gara mataku tiba-tiba ngebokeh lagi dan makin parah. Lampu merah tinggal belasan detik lagi loh -_- yaaahh untung keburu yakk. Wakakakakakakak.

Begitu sampe lampu merah ringroad selatan, kita keflashback dengan si sapi-sapi unyu tadi. Kira-kira mereka dibawa kemana yaaa? Rasanya aku pengen bawa pulang sapi yang pas di truk posisinya paling kiri. Kenapa? Dia warna coklat unyu, mukanya baby face banget unyu banget pokoknya, pandangannya penuh kharisma, dan senyumnya menawaaaaaaannnnn. Sapiiiiiiiiiiiiii, aku jatuh cinta padamuuuuuuuuuuu :**** (?). Dan tak terasa, udah sampe Sewon sekitar setengah 9 malem gitu deh. Huuummmmm, waktunya istirahat! Tapi perjalanan duo absurd itu belom berakhir karena masih banyak perjalanan dan petualangan yang penuh absurdibilitas ini. Tunggu cerita kami selanjutnya! :D


Regards,

Dinosaurus Kodok Gepeng, S.Sn (Sana Sini Nongkrong) & Anjani Citra (Lukis vs Tari)
Salam udang abstrak! :D

NB : intinya di cerita ini cuma ada aku (eL)  dan sahabatku Citra dan juga sapi pangeran tampanku :3

Jumat, 23 November 2012

Hujan Mengembalikan Jiwaku pada Tubuhku Pagi Ini



Kembali ke alam, berbaring akan tanah basah, memeluk embun pagi, menelaah insan dunia yang sedang menghilang tanpa jejak.  Tak bertujuan.  Dan nampak padaku sesosok malaikat tanpa sayap yang sedang mengitari hutan belantara.  Jejak kaki yang tegas tertoreh dalam tanah becek.  Perlahan, satu-persatu, titik-titik indah dari langit mulai turun dan semakin membasahi tanah disekelilingku.  Aku limbung, jatuh tak berdaya. Tak kuasa aku menahan tetesan hujan yang menari-nari diatas kepalaku, tak mampu lagi aku menjejakkan kaki di tanah basah yang semakin lama semakin lunak dan menjadi lumpur, tubuhku terasa ringan dan tiba-tiba semua itu menjadi gelap.

Aku tak sadarkan diri.  Yang kudengar hanyalah nyanyian-nyanyian indah.  Apakah ini surga?  Yakinkan aku, bangunkan aku dari ketidaksadaranku.  Aku hanya ingin memastikan apakah aku masih hidup atau mati.  Cepat, bangunkan aku, sadarkan aku.  Bawa aku ke tempat yang bisa meyakinkan aku akan keadaanku sekarang.

Terbersit cahaya yang menyilaukan dan perlahan membangunkanku dari ketidaksadaranku.  Aku dimana?  Yang kulihat hanyalah cahaya dan cahaya dimana-mana.  Aku mencoba untuk duduk dan menyamankan posisiku.  Masih terasa pusing.  Tiba-tiba datanglah sesosok malaikat tanpa sayap yang kulihat di hutan sebelum aku jatuh.  Ya, ia menghampiriku.  Ia mengulurkan tangannya dan mengajakku pergi.  Perlahan aku berdiri dan saat kumelihat ke bawah, tubuhku masih tergeletak tak berdaya.  Sukmaku telah pergi.

Sebuah dilemma bagiku saat itu.   Haruskah aku memilih untuk ikut bersama malaikat itu ataukah aku memilih untuk kembali ke kehidupanku dan memperbaiki semua kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan selama hidupku.  Jika aku tetap hidup, aku akan merasakan sakit dan pahit.  Jika aku mati, aku mendapatkan kebahagiaan yang abadi.  Aku bingung, aku bimbang.  Mana yang harus kupilih?  Aku bertanya pada malaikat itu, apakah aku bisa kembali pada tubuhku?  Dan ia hanya memberikan jawaban bahwa tidak semua orang yang jiwanya telah pergi meninggalkan tubuh bisa kembali lagi, semua tergantung pada catatan kehidupan yang telah ditorehkan.  Aku terduduk lemas, kaku melihat dan meratap didepan tubuhku.

Malaikat itu berusaha menarikku dari tempat itu dan membawaku pergi.  Entah kemana dia akan membawaku.  Pasrah dan menerima kenyataan yang aku lakukan.  Aku sudah mati.  Ini surga, tempat dimana aku bisa mendapatkan kebahagiaan abadi, tanpa jeritan, tangisan, kepedihan yang mendalam, dan perang.  Aku mulai menikmati perjalanan bersama malaikat tak bersayap yang terus menggenggam tanganku, menuntunku meniti jalan kehidupan abadi.

Cahaya yang terlalu menyilaukan pada awalnya seiring waktu berjalan aku merasakan keindahan dalam tempat itu.  Semua tersenyum senang saatku melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang amat sangat besar dan megah.  Kulihat diujung ruangan ada yang tengah menungguku.  Kurasa aku mengenalnya.  Semakin aku mendekati ujung ruangan, terdengar beberapa sosok yang menungguku itu memanggil namaku.  Aku semakin heran, dari mana mereka tahu namaku?  Kakiku terus, terus, dan terus melangkah menuju mereka.  Saat aku tiba di hadapan mereka, aku hanya bisa menangis, haru.

Aku melihat kakek dan nenekku mengulurkan tangannya, seraya ingin memelukku.  Disekitar mereka tampak juga orang-orang yang aku sayangi, yang telah meninggalkan dunia fana terlebih dahulu.  Aku berlari kedalam pelukan kakek dan nenekku.  Ya Tuhan, aku amat sangat merindukan mereka.  Air mata kembali mengalir.  Deras, bahkan sangat deras.  Kami bercengkerama di alam sana.  Rasanya aku tak ingin pergi meninggalkan tempat ini.  Kuyakin ini adalah surga.

Sekian lama aku berbaur dengan mereka semua, tiba-tiba aku tersedot dalam sebuah kotak yang tampak jahat.  Membawaku akan tempat penuh darah dan mayat-mayat yang bergelimpangan.  Ya Tuhan, ini ‘kan tempat dimana perang dunia saat itu berlangsung!  Betapa mengerikan!  Aku berpikir, mengapa aku dibawa ke tempat seperti ini?  Kuberjalan menyusuri mayat-mayat yang tercecer.  Melihat sebuah kalender saku yang terjatuh tepat disebelah sesosok mayat berseragam.  Kuambil kalender itu.  Aku terkejut saat melihat angka tahun pada kalender itu.  Angka yang tidak berawal dengan angka 1!  Empat digit yang mengejutkan!  Apakah ini pertanda akan munculnya perang dunia ketiga?

Tiba-tiba, aku kembali terhisap kedalam sebuah tempat yang aku kenal.  Kulihat aku kembali ke lokasi dimana sukmaku keluar dari tubuhku.  Aku menatap miris tubuhku yang tergeletak tak berdaya.  Aku berusaha berbaring disebelah tubuhku yang tak bernyawa itu, menangis.  Lama-kelamaan, hanya gelaplah yang kurasakan setelah ada pukulan kecil yang mengenai kepalaku.

Kudengar tetesan air hujan yang masih membasahi bumi.  Tersadar aku sudah kembali pada tubuhku.  Aku masih di hutan belantara, tempat dimana aku terjatuh.  Aku berdiri dan merasakan kenikmatan.  Aku hidup kembali!  Sukmaku telah kembali kepada tubuh ini!  Aku berlari keluar dari hutan belantara dan kembali pada kehidupan nyata.  Menjalani kehidupan nyata dan berusaha membawa misi perdamaian.  Tak ingin aku mendapati duniaku menangis, tak ingin perang dunia ketiga itu terjadi.  Nyata dan damai.  Aku berlari dengan air mata masih mengalir.  Haru akan kembalinya jiwaku dan sedih akan terpisah kembali dengan orang-orang yang aku sayangi di surga sana.

Aku berterima kasih akan hujan yang membasahi Yogyakarta pagi ini.  Dia telah mengembalikan aku ke kehidupan nyata.  Jiwaku kembali pada tubuhku yang lemah tak berdaya di atas pembaringanku.  Merasa berharga dan bersyukur.  Aku masih hidup!  Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang telah Kau berikan.  Terima kasih atas semua yang sudah aku alami.  Perlahan hujan mulai reda.  Matahari menampakkan diri dengan gagahnya.  Memamerkan keindahan dan kehangatan sinarnya.  Aku bangkit dan mulai bersiap untuk menapaki hari ini.  Menjejakkan kaki dikampus ISI Yogyakarta tercinta.



Sewon, 21 November 2012
Pagi hari
Sebuah kontrakan sederhana yang menaungiku saat hujan turun
Tertanda, diriku sendiri

Rabu, 18 Juli 2012

Dear, Bestfriend :)


Kondisi fisik? Aku tidak peduli. Secantik atau setampan apapun dirimu, seindah atau sekeren apapun dirimu, sekaya apapun dirimu, aku tidak peduli dengan semuanya. Itu hanya omong kosong. Hal duniawi, itu bisa dicari. Memang, semua itu bisa membantumu selama menjalani hidup. Kalian bisa memiliki apapun yang kalian inginkan. Tapi itu semua hanyalah sementara, abstrak dan tidak penting. Semua bisa hilang dengan satu jentikan jari. Lalu apa gunanya kalian hidup dengan hal-hal itu? Apa makna hidup kalian selama ini?

Untukku, hidup hanyalah sebuah teka-teki. Kita hidup untuk mencari tahu apa gunanya kita ada di dunia ini. Aku sadar sekarang. Hidupku dipakai Tuhan untuk keluarga dan persahabatan. Persahabatan penting bagiku. Dia bisa menghancurkan sekaligus membangun. Aku ingin membuat persahabatan itu membangun. Aku hanya mau persahabatan yang apa adanya bukan ada apanya.

Aku dan Sahabatku
Kami bertemu sejak masih bersekolah di TK. Dia, Zefanya Christell. Orangnya baik, ceria, dan menyenangkan. Hari demi hari, tahun demi tahun kami jalani bersama. Kami baru berpisah sekolah saat SMA. Aku di SMAK 2 BPK Penabur Bandung dan Anya di SMA Santa Maria. Walaupun berpisah sekolah, hubungan persahabatan kami tetap berjalan lancar. Hingga kami lulus dari SMA pun masih terus menerus kontak. Aku memilih Anya untuk menjadi sahabatku bukan karena apa-apa. Aku hanya merasa nyaman aja sama Anya. Banyak orang bilang, mustahil orang yang karakternya beda bisa sahabatan lama. Buktinya? Jika dihitung dari awal kami bertemu, TK, hingga sekarang, sudah 15 tahun lebih kami bersahabat dan akan tetap bersahabat sampai maut memisahkan kami. Memang, persahabatan kami nggak semulus yang diharapkan. Banyak permasalahan yang kami lalui, pertengkaran dan banyak hal yang membuat kami kisruh. Ada juga orang yang berniat memisahkan dan menghancurkan persahabatan kami, tapi itu nggak ada pengaruhnya sama sekali. Tawa dan air mata kami jalani bersama. Susah dan senang kami jalani bersama. Saling dukung terus menerus.

"aku ga peduli mau anya jd kaya gimana juga, ga peduli apa kata orang.. anya ya anya.. tetep sahabat aku yg paling baik n paling aku sayang.. aku ga liat anya dr kondisi fisik anya skrg.. aku cuma liat anya dr hati anya.. ketulusan hati anya sahabatan sm aku.. ketulusan hati anya mau terima aku apa adanya.." - kutipan chat antara aku dan Anya

Tulisan ini aku buat bukan untuk menjelek-jelekkan atau apapun yang negatif. Aku hanya bisa menulis ini sebagai salah satu cara untuk menghibur sahabatku, Anya. Kami saat ini memang terpisah jarak yang jauh, Bandung-Yogyakarta. Aku hanya ingin terus menerus memberikan bantuan dan support untuk sahabat terbaikku. Aku yakin kamu pasti bisa melalui hari-hari beratmu. Tak peduli bagaimana dirimu sekarang, kau tetap sahabat terbaikku. Tetap semangat Anyaaa :*

Keep our friendship. Forever and ever :)

*dedicated to my beloved bestfriend, Zefanya Christell.. thanks for our friendship.. be tough.. let's rock our life, sist.. :)*

Kamis, 31 Mei 2012

I Love You, Sunset :*

Matahari terbenam tidak selamanya menjadi akhir dari suatu hari cerah dan bermandi sinar matahari yang kemudian menjadi gelap gulita. Dari kebahagiaan menjadi keheningan dan bahkan keterpurukan. Dulu, sering banget aku menganggap kalo matahari tenggelam adalah sebuah akhir dari kelelahan yang berkepanjangan dan menjadi sebuah awal dari penderitaan malam buat ngerjain tugas dan belajar. Malam menjelang hanya ucapan sial yang keluar dari mulutku. Terus menerus beranggapan seperti itu. Hingga akhirnya datanglah sebuah saat dimana matahari mulai menghilang dari pandangan mataku.

Sekilas tentang matahari terbenam dan sedikit curhatan si bawel...

Sinar terang yang perlahan berubah menjadi kuning, oranye, dan sedikit merona merah tampak jelas dalam pandangan mataku. Kamu tahu? Mungkin saat itu adalah hari dimana aku merasa amat sangat bahagia. Tahu kenapa? Yaaahhh, sebenarnya ini hal yang biasa dan bukan sesuatu yang sangat WOW atau apapun itu bahasanya. Aku hanya merasa pada saat terbenamnya matahari saat itu adalah akhir dari perjalanan galauku tentang masa laluku yang pahit. Ditinggalkan oleh seseorang yang pernah mengisi hatimu adalah sebuah hal yang bisa dibilang berat. Awalnya aku merasa berat, tapi aku percaya suatu saat aku bisa keluar dari belenggu masa lalu yang selama ini mempengaruhi hari-hariku. Dan itu terbukti! Aku bisa keluar dari jeratan masa lalu. Matahari terbenam itu pula yang menjadi awal perjalananku yang baru. Bisa dibilang menjadi awal perjalanan hatiku, hidupku, dan hari-hari baruku. Aku semangat dan amat semangat dalam menyambut detik demi detik perjalanan waktuku. Sedikit perubahan raut wajah yang awalnya terlihat seperti ikan cupang mati penasaran gara-gara digoreng tepung berubah menjadi bunga dengan lima kelopak bulat yang berseri-seri dengan mata berupa sepasang garis lengkung setengah lingkaran dan mulut menganga bahagia. Yaaaaaa, aku bahagiaaa. Terima kasih mataharikuuu. Walaupun kamu menghilang aku tetap bahagia dan akan semakin bahagia saat kamu muncul kembali di hari berikutnya. Semangat matahariku sudah kembali berkobar dalam hatiku. Tak salah aku menaruh harap pada matahari. Matahari yang kulihat sekarang adalah matahari bahagia yang amat sangat indah dan menyinari bumi dengan hangat. Tak kalah dengan satelit bumi, bulan, yang tampak indah dan anggun pada malam hari yang menemaniku menghabiskan malam untuk kembali menyambut dan memohon pada matahari agar hariku lebih bersinar lagi. Sunrise yang memberikan harapan-harapan serta semangat, sunset yang indah menutup hari penuh sinarku yang memberi semangat agar aku lebih bisa berpikir positif dan mensyukuri hari yang telah dilewati, dan bulan yang dengan sabar mendengar permohonanku pada saat keesokan paginya saat matahari kembali datang. Hidup ini indaaaaaaaaaaah :D

Sunset yang terukir dalam sejarahku...

Hari demi hari akan terus berganti warna dan tidak akan pernah kembali. Ia bergerak maju. Namun tetaplah meniti langkah ke depan dan cobalah untuk mengukir sejarah yang lebih baik dari yang sudah dilewati.

Salam hangat matahari...